21/02/2021

Kategori Cerpen

01 Agustus 2021

Oleh : W W

RUANG BERSYUKUR

“Pada akhirnya, kita hanya perlu menerima. Menerima segala kurang, menerima segala kritik, menerima segala pelik.  Saling peluk dalam pelik, bersama diri sendiri. Usah mengemis simpati sana-sini. Mari  banyak bersyukur dan tentukan definisi cantik sendiri”

Raneu Anindiya adalah nama lengkapku, Raneu adalah nama panggilanku. Seorang pengusaha, sekretaris sekaligus CEO anak  muda berani bergerak. Sungguh, serakah sekali aku ini. Kata orang, ini merenggut kesempatan orang lain. Ah, ku pikir mereka saja yang tidak mau berusaha dan berpikir. 

“Gubrag” figura di ruang tamu terjatuh. Segera ku ambil dan ku ganti dengan figura yang baru. Kali ini aku diam sejenak, otakku membuka cerita masa lalu. Menilik perjalanan berat 4 tahun silam ketika menjajaki masa perkuliahan. Di halaman depan rumah, aku menarik nafas dalam-dalam, memegangi figura yang isinya terpampang wajah bapak, ibu dan bocah kecil 24 tahun yang lalu. Bulan sabit jelas tercipta di bibirku kali ini, seraya mengingat perjuangan anak petani dan tukang cuci gosok yang katanya tidak boleh punya mimpi. 

“Orang miskin mana mungkin bisa kuliah” ujar tetangga satu. 

“Kadang makan kadang enggak, so so an kuliah” ujar tetangga dua. 

“Emang mampu bayar semesteran?” ujar tetangga tiga. 

“Kuliah itu buat yang kaya, yang hidupnya kurang enggak usah kuliah, cuman menuhin kampusnya doang” ujar tetangga empat. 

“Aduh mimpinya ketinggian banget ya. Bapak petani, ibu tukang cuci gosok, anaknya so so an kuliah. Dia pikir kuliah itu murah?” ujar tetangga lima. 

“Paling habis lulus jadi tukang cuci gosok juga, bahkan mungkin kuliahnya cuman sampe setengah jalan, enggak akan selesai” ujar tetangga enam.

“PASTI! Pasti kuliahku selesai. Pasti aku bisa dapat gelar sarjana. Pasti aku bisa mengangkat derajat kedua orang tuaku. Pasti aku bisa beli mulut-mulut jahat itu. Pasti aku bisa buktiin ke mereka kalau bukan anak siapa-siapa bisa jadi apapun. Aku pasti sukses di atas kakiku sendiri. Aku pasti membuat mereka bungkam” ujarku menyakinkan dan terus memotivasi diri ketika mendapat nyinyiran semacam itu. 

Bukan sekali atau dua kali, setiap hari bahkan aku mendengar nyinyiran tersebut. Seakan-akan kuliah diharamkan bagi anak seorang petani dan tukang cuci gosok, seakan-akan anak seorang petani dan tukang cuci gosok diharamkan memiliki mimpi Selepas SMA, nyinyiran tersebut terdengar keras di kedua telingaku. Bahkan tak jarang, ibu menangis mendengar kalimat tersebut. Namun, lagi dan lagi aku terus menyakinkan ibu bahwa aku bisa. Ibu percaya dan terus mendukung tekad kerasku untuk berkuliah. Sampai akhirnya …

“Ibu, Raneu lolos SNMPTN di jurusan yang Raneu mau. Raneu juga dapet bantuan beasiswa mahasiswa kurang mampu. Ibu Raneu kuliah, bu” kataku memberitahu ibu sambil menangis haru. 

“Raneu kamu tidak bercanda, nak? Ibu bangga nak, Alhamdulillah. Raneu kuliah yang sungguh-sungguh ya nak, buktikan bahwa kamu bisa meraih mimpi kamu” ujar ibu membalas sembari memelukku dengan erat dan berlinang air mata.

“Iya bu Raneu janji sama ibu. Raneu akan buat ibu dan bapak bangga. Raneu pasti bisa mengangkat derajat ibu dan bapak. Raneu pastiin, ibu dan bapak enggak akan dieremehin orang lain lagi, bu” ujarku sembari memeluk ibu erat-erat. 

Ceritaku dimulai sebagai seorang mahasiswa … 

Hari itu, aku menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa tingkat satu. Aku berkuliah di kampus yang masih dalam lingkup wilayahku sendiri. Bedanya, kampusku terletak di kota, sedangkan tempat tinggalku di kabupaten. Perjalanan ke kota bisa aku tempuh dalam waktu 3 jam, namun ibu dan bapak mencarikan aku kostan dengan dalih “ibu dan bapak tidak mau kamu kelelahan karena harus pulang pergi kabupaten-kota, nanti kuliahmu terganggu nak”. Di kostan yang tidak terlalu luas, aku berhasil tumbuh menjadi seorang mahasiswa dengan segudang prestasi. 

Enam bulan sekali aku pulang (ketika libur semester) untuk mengobati rasa rindu pada ibu dan bapak  termasuk memastikan ibu dan bapak dalam kondisi sehat. Setiap kepulanganku ke rumah, nyinyiran tetangga selalu mencuat terdengar ke permukaan. 

“Anak tukang cuci gosok kuliah di perguruan tinggi negeri yang terkenal tuh. Paling juga nunggak bayar semesteran. Lihat aja nanti” ujar tetangga di depan rumah. 

“Oh itu anak orang miskin pulang, paling juga lagi buat surat pengunduran diri soalnya enggak mampu bayar semesteran. Uangnya abis buat bayar kostan doang. Haha” ujar tetangga di belakang rumah. 

Aku tidak pernah ambil pusing, toh aku kuliah bukan karena bantuan mereka. Aku tidak pernah membalas ucapan mereka, aku malah berpura-pura tidak tahu dan semakin menguatkan tekad. Dalam waktu bersamaan, aku mendapat pengucilan di kampus. Teman-temanku memang berasal dari kaum berada. Hanya aku dan kelima temanku yang berasal dari keluarga kurang mampu dan berkuliah dengan beasiswa bantuan tersebut. 

“Kayanya lo enggak bisa temenan deh sama kita. Lo dekil banget, outfitnya juga kampungan banget. Enggak level deh sama kita. Kasian juga sih, entar kalo kita belanja lo masa harus kaya babu.  Bantuin bawain belanjaan kita gitu? Enggak deh enggak, pembantu gue juga enggak sedekil lo” ujar temanku yang pertama. 

“Soalnya kita kalo kumpul di kafe. Emang lo mampu? Bukannya lo kuliah juga berkat beasiswa kurang mampu itu ya? Maaf ya, kita klasternya beda, hehe” ujar temanku yang kedua. 

“Kita sih geng tubuh semampai, beda ceritanya sama lo yang agak berisi gini. Enggak deh kayanya lo enggak bisa jadi bagian dari kita” ujar temanku yang ketiga. 

“Ini kita anak-anak pinter loh, lo emang pinter?” ujar temanku yang keempat. 

Dan terus-menerus pengucilan itu aku dapat. Benar-benar merasakan beauty previllage. Namun, ucapan dan perlakuan tersebut tidak pernah aku ambil pusing. Lagi pula aku berniat untuk berkuliah, bukan untuk ajang pamer harta kekayaan sana sini. Kalau pun aku tidak berteman dengan mereka, aku masih bisa berteman dengan yang mau menerima aku apa adanya. Hingga tiba, delapan semester aku balas hinaan mereka, delapan semester berturut-turut aku mendapat beasiswa mahasiswa berprestasi. Aku menyumbang banyak prestasi untuk kampus. Aku aktif dalam ormawa, aku berkali-kali menjadi relawan, aku berkali-kali mendapat penghargaan, bahkan aku dikenal banyak orang. Aku membuat mereka bungkam tidak berkutik sedikit pun. 

Selama kuliah, aku juga sudah memulai bisnis menjadi seorang penjual perhiasan titanium. Order setiap hari lumayan banyak, penghasilanku pun meningkat. Lewat bisnis tersebutlah, aku bisa membiayai hidup selama kuliah, dan menabung terus-menerus meski dalam nominal yang belum terlalu besar. Setidaknya, saat ini dan kelak di kemudian hari aku tidak terlalu menjadi beban bagi bapak dan ibu. 

Tahun 2018 aku lulus dan berhasil menyandang gelar Sarjana Ekonomi dengan predikat cumlaude. Penghargaan, pujian dan tawaran bekerja aku dapat dari sana-sini. Hadiah dari Allah SWT. terhadap hamba-Nya yang mau tabah, ikhtiar, tawakal dan terus bersyukur. Kejutan luar biasa di tahun 2019, setelah lulus di tahun 2018, tabungan selama kuliah aku wujudkan menjadi sebuah toko. Tahun 2019 aku membuka toko perhiasan titanium di kota dan di kabupaten. Aku juga sudah bekerja sebagai sekretaris sebuah perusahaan terkenal di kota. Selain itu, menjadi duta baca, duta inspiratif dan duta persahabatan di tahun 2019.  Tawaran mengisi seminar pun datang dari sana-sini. 

Tahun 2020, aku mampu membelikan bapak dan ibu rumah. Meskipun tidak begitu megah. Memboyong beliau ke kota dan menikmati semua hasil dari kerja kerasku selama ini. Aku mendirikan komunitas “anak muda berani bergerak” yang kemudian booming dan begitu famous di kalangan anak muda. 

“Wah, Raneu sekarang sukses ya” ujar tetangga pertama. 

“Raneu bisnisnya maju pesat ya. Hebat Raneu” ujar tetangga kedua. 

“Wah, pasti ibu dan bapaknya Raneu bangga punya anak sehebat itu” ujar tetangga keempat. 

 Lega rasanya, sudah berhasil menikam nyinyiran jahat mereka tempo dulu. Mereka yang membabi-buta dan menikam seluruh harapan dan mimpi adalah mereka yang kini terkagum-kagum di pojokan sana. Jatuh bangun hidup sudah aku lalui, bahkan hal yang paling pelik dan pahit pun telah mampu aku lalui. Ditipu ketika bisnis, dihina terus-menerus, dikucilkan sana-sini. Semua bumbu pahit sudah aku rasakan. Kini aku mengecap manis, meski tempo dulu di tengah jalan aku sempat bepikir untuk mundur, pulang dan menyudahi. 

“Aku tidak cantik” ujarku. 

“Aku miskin” ujarku. 

“Aku gemuk” ujarku. 

“Aku tidak menarik” ujarku. 

 “Kenapa aku hidup dalam kondisi serba kekurangan? Kenapa aku tidak seperti temanku yang lain? Kenapa bapak petani? Kenapa ibu tukang cuci gosok? Kenapa beliau tidak jadi konglomerat?” ujarku seakan menyesali. 

Kini, aku sadar. Hidup selalu sepaket. Beberapa anak memang beruntung dibesarkan dalam keluarga yang serba berkecukupan. Namun, aku juga beruntung dibesarkan dari bapak dan ibu yang mengajariku banyak hal hebat. Aku telah memetik buah dari usahaku selama ini, aku menamai ini ruang bersyukur. Aku memetik pembelajaran bahwa hidup harus dipenuhi mimpi dan ambisi, harus mampu berdamai dengan diri sendiri dan harus belajar untuk bisa menentukan definisi “cantik” versi diri sendiri. 

.

.

.

.

25 Juli 2021

Oleh : S I P

TERIMAKASIH PEDULIMU

Pagi dini hari, saat mentari masih belum tampak di ufuk bumi Re sudah beranjak dari tempat tidurnya menuju kios ayahnya di pasar ibukota. Setelah mencuci wajahnya serta mengucir rambutnya yang panjang, Re mengayuh sepeda yang biasa mengantarnya ke pasar. Tak segelintir orang yang tahu aktivitasnya dipagi buta itu. Membersihkan, merapihkan kios ayahnya dengan tangannya yang cekatan.

Re menaruh sepeda nya di depan gerbang pasar. Banyak orang yang sudah datang terlebih dahulu, kebanyakan dikalangan ibu-ibu dan bapak-bapak. Seharusnya anak seusia dirinya masih tertidur lelap dengan mimpi indah didalamnya. Ayah nya yang selama ini bekerja sebagai tukang sayur dan ibunya bekerja sebagai buruh cuci Re tak pernah malu dengan keadaan keluarga kecilnya. Dua jam berlalu Re kembali ke rumah nya yang berada di pinggir gedung tinggi ibukota. Ke rumah yang sangat sederhana. Di depan sudah ada gerobak milik sang ayah yang biasa digunakan untuk mengangkut sayuran yang akan dibawa menuju kios. Adiknya, masih tertidur lelap. 

“Re sudah pulang?” Ujar ayahnya.

“Sudah Yah, Re ingin mandi badan Re bau.” Re berkata dengan senyum yang terukir dibibirnya. 

“Re sarapan dulu.” Ibu berteriak memanggil Re.

“Singkongnya Re bawa saja bu.” Re sudah berangkat sekolah dengan sepeda nya. Ia harus cepat-cepat berangkat menuju sekolah untuk mengerjakan PR. Bukan karena Re malas mengerjakan, namun Re tak punya LKS yang menjadi sumber PR nya. Dirinya belum mampu membeli LKS trbal itu. Alhasil, kemarin ia meminjam LKS teman sebangku nya, Nay.

Nay dan Re berbeda, menurut teman yang lain. Re hanya anak buruh serabutan sementara Nay anak seorang pengusaha perusahaan terbesar se-ibukota. Tapi, Re tak peduli dengan semua omongan teman-temannya yang memandang ia sebelah mata. Buktinya Nay menerima ia apa adanya menjadi teman. Prinsip hidup Re Love your self  kalo kata orang barat.

“Hai Re, belum ngerjain?”

“Semalam aku tak sempat mengerjakan.”

“Pasti kamu capek ya. Lain kali, aku boleh dong bantu-bantu ke kios ayah kamu.” Tawar Nay kepada Re

“Aah itu mah sudah biasa, lebih baik kamu tidur saja dirumah. Lagian dipasar kan bau.” ujar Re tertawa.

“Pokoknya kapan-kapan aku bantuin kamu ya.”

“Liat nanti saja deh.”

Pelajaran matematika berlangsung cukup lama, Re sesekali menguap namun guru matematika tak sadar Re sedari tadi mengantuk. Dua jam pelajaran matematika selesai. Bel istirahat berbunyi, langsung saja semua siswa berhamburan ke kantin ataupun sebagian ke perpustakaan. 

“Re mau kemana?”

“Aku ingin ke perpus, ngadem.” ujar Re cengengesan.

“Loh gak makan?”

“Hmm tidak deh.”

“Kamu sedari tadi menguap terus lho Re. Lebih baik makan yuk kebetulan aku membawa bekal yang disiapkan bunda tadi pagi.”

“Kamu saja deh aku tidak lapar.”

“Coba satu aja pasti ketagihan.”

“Yasudah deh aku ambil satu ya Nay.”

“Iya, biasakan makan loh supaya badanmu besar.” Ucap Nay tertawa.

“Kamu menyindir apa bagaimana?”

“Habis ini ke perpus yuk baca buku sekalian ngadem.”

“Ayo, terimakasih loh Nay.”

Nay mengangguk iya. Keduanya beranjak dari kelas menuju perpustakaan sambil bersenandung ria. Sesekali menyapa orang yang mereka kenal. Tampak tak ada perbedaan diantara mereka. Ruangan perpustakaan menjadi tempat favorit sekolah mereka, walaupun hanya sebagian yang memanfaatkan kesejukan ruangan tersebut. Kedua nya memasuki ruangan perpustakaan, Nay langsung menuju rak buku yang berisi novel diikuti Re. Namun langkah Re terhenti karena ibu penjaga perpustakaan mrmanggil dirinya.

“Re kemari.”

Re menengok, “Iya bu, ada apa?”

“Kamu telat mengembalikan buku Re, sudah satu bulan lama nya kamu tak kunjung mengembalikan bukunya.”

Ia baru mengingatnya, buku Kimia yang ia pinjam di perpustakaan sudah lama hilang. Wajah Re berubah pucat. 

“Hmm.. Anu bu, buku yang saya pinjam hilang.”Lantas ibu penjaga perpustakaan menggeleng-gelengkan kepala nya.

“Itu artinya kamu harus membayar denda Re.”

         Merasa Re tidak ada disebelahnya, Nay mencari keberadaan Re. Kedua mata Nay menangkap keberadaan Re menunduk berbicara dengan ibu penjaga perpustakaan. Kemudian, ia mendekati Re.

“Kenapa Re?”

“Dia menghilangkan buku kimia.” jawab Ibu penjaga perpustakaan

“Nanti kalau saya punya uang saya bayar kok bu, secepatnya.”

“Biar saya yang bayar bu, berapa?” Nay mengambil selembar uang kertas dari dalam saku baju nya. Sementara Re menatap Nay kaget.

“Karena hilangnya satu bulan maka dikenakan denda lima puluh ribu.”

“Gak usah Nay.” Raut wajah Re berubah gelisah.

“Sudah tak apa.”

“Lain kali jangan diulangi lagi ya Re, harus tahu resiko nya.”

“Iya bu.” Re mengangguk. Memang ini juga salah dirinya sendiri, sembarangan menaruh barang yang ia pinjam.

Re dan Nay keluar dari ruang perpustakaan. 

“Kenapa kamu gak bilang kalo buku perpustakaan yang kamu pinjam hilang?”

“Aku gak mau ngerepotin kamu lagi Nay, kamu sudah banyak membantuku. Aku malu.”

“Tidak perlu malu Re, kita ini teman. Bukannya teman itu harus saling menolong satu sama lainnya bukan?”

“Memang benar, tapi tetap saja tidak enak. Nanti kalau uangku cukup akan kugantikan Nay. Terimakasih selama ini kamu sudah membantuku.”

“Sama-sama Re, kamu juga jangan ceroboh lho.”

“Iya pastinya.”

Bel masuk berbunyi. Kedua nya kembali menuju kelas sambil bersenda gurau.

.

.

.

.

.

13 Maret 2021

Oleh : WN

SEPERTIGA MALAM BICARA

Pukul 03.00 WIB tepat dini hari, ketika matahari masih tertancap di tempat peraduannya, bahkan embun-embun masih terlihat jelas membasahi kaca jendela. Udara masih begitu dingin, enggan sekali rasanya jika harus bangun dari tidur dan mimpi di kala malam. Namun, berbeda dengan kali ini. Rasanya ingin sekali bersimpuh di  hadapan pemilik jagat raya dan sesisinya, ia Sang Empu-nya semesta. Begitulah obat jika hati sedang gundah-gundahnya. Mendengar rombongan omelan dari bapak dan ibu tentang nilai kuliah yang merosot ditambah mendengar permintaannya untuk sesegera mungkin mencari pasangan dan menikah. Komplit sudah isi pikiran ini. 

“Mentari kamu udah bangun? Tahajud dulu, ambil air wudhu” suara ibu terdengar jelas memanggilku. 

“Iya bu, Mentari udah bangun. Lagi ngumpulin nyawa dulu, bu. Masih sempoyongan” jawabku kepada ibu. 

“Ya kerjaanmu memang seperti itu, mengerjakan tugas hingga larut malam, akhirnya bangun sempoyongan” jawab ibu kepadaku dengan nada kesal. 

“Iya bu, iya maaf” jawabku kepada ibu. 

Dalam keadaan masih sempoyongan, segera aku bangun. Bergegas ku basahi kulitku dengan air wudhu, aku nikmati wudhu pada sepertiga malam kali ini tanpa terburu-buru. Selesai wudhu, segera ku pakai mukena dan ku gelarkan sajadah, kali ini aku tidak banyak bicara. Hatiku yang terus-terusan berkeluh  dan bertanya-tanya. “Sebenarnya jodohku siapa? Jalan kehidupanku selanjutnya bagaimana?”. Terus menerus ku renungkan pikiran yang membuatku dilema, hingga akhirnya renungan terhenti ketika masjid mengumandangkan adzan subuh dengan suara muadzin yang khas. 

“Mentari, yuk keluar. Kita ke masjid” ujar bapak mengajakku. 

“Iya pak, Mentari segera keluar” jawabku kepada bapak. 

“Yuk, ibu udah siap juga. Cepetan berangkat” ujar ibu. 

Sepulang dari masjid, aku segera mandi dan kemudian membantu ibu di dapur. Layaknya perempuan pada kebanyakan, aku bantu ibu. Meskipun hanya sekedar memotong bawang atau membersihkan sayuran. Kondisi tiba-tiba menjadi hening ketika ibu memulai pembicaraan yang bagiku cukup menohok. 

“Bapak, bapak tahu tidak? Anaknya bu Wiwit yang sekarang jadi dokter itu, minggu depan menikah. Calon istrinya orang Palembang loh, pak. Temen ibu, Rahayu juga akan menikahkan anak perempuannya. Itu si Rania yang sekarang jadi perawat, pak. Rania mau nikah sama TNI Angkatan Darat” ujar ibu sembari membolak-balikkan gorengan di wajan. 

“Oh iya, bapak sudah dengar berita anaknya bu Wiwit. Faisal anaknya pak Joko juga sudah melamar Nuriyah anaknya bu Tuti, dengar-dengar mereka akan menikah bulan depan bu” ujar bapak sembari duduk memegang secangkir kopi. 

“Duh, enaknya ya pak. Jadi mau punya menantu, menantunya yang bisa nemenin bapak juga kalo ngopi. Ibu juga udah  engga sabar mau gendong cucu, pak” jelas ibu menyindirku yang intinya ingin aku seperti mereka. 

“Bu, nikah itu bukan soal duduk di pelaminan pake baju pengantin, dapet amplop, salam-salaman sama tamu undangan, bulan madu, punya anak. Nikah itu kan ibadah, ibadahnya seumur hidup. Kalau cuman takut dibilang jomblowati, engga laku, terus buru-buru cari pasangan, eh tau-taunya dapet pasangan yang salah, gimana nasib ibadahnya?” ujarku membalas perkataan ibu. 

Ibu dan bapak tidak menjawab perkataanku, beliau hanya tertawa ke arahku. 

“Kalau pun sudah ada jodohnya, Mentari juga pasti nikah bu. Bawain mantu buat bapak dan ibu, bawain cucu buat mainan bapak dan ibu. Cuman sekarang emang belum dikasih jodohnya, jadi ya Mentari belum nikah” timpa aku kembali. 

“Nak, nak. Kamu ini bisa aja jawabnya. Emang kriteria jodohmu itu seperti apa? Mau ibu carikan? Atau mau bapak carikan?” tanya ibu padaku. 

“Yang sholeh, enak dilihat, sederhana, bijaksana seperti bapak, setia, baik hati, sayang ke bapak sama ibu. Anak siapa ya bu yang kriterianya kaya gitu. Hehe” jawabku kepada ibu. 

Ibu tertawa mendengar jawabanku. Obrolan berakhir ketika ku lihat jam dinding menunjukkan pukul 07.30 WIB yang artinya aku harus bersiap dan berkemas untuk pergi ke kampus. Segera ku ganti baju, menggendong tas dan memanaskan sepeda motor. Tak berselang lama, segera ku pakai helm, berpamitan dan langsung tancap gas. 

Sesampainya di parkiran kampus, aku melihat sepeda motor berwarna hitam sudah terparkir lebih dulu. Iya, itu adalah sepeda motor dari laki-laki yang ku kagumi sejak aku duduk di bangku SMA hingga kini aku menempuh S2. Enam tahun setengah sudah aku mengaguminya. Tidak pernah ku beranikan diriku untuk berkata soal perasaanku kepada ia. Aku hanya menunggu dan meminta, tidak banyak berkata-kata. Jika semesta menggariskannya untukku, akan aku terima. Namun jika tidak, semoga saja tidak terjadi. Laki-laki itu adalah Nando, ia adalah mantan ketua OSIS di SMA, ia sangat pintar, bijaksana, berwibawa, ramah, peduli dan yang membuatku semakin mengaguminya adalah karena selalu ku lihat ia lebih dulu ke masjid sebelum adzan berkumandang, selain itu aku lihat ia tidak pernah lepas dari shalat duha. Begitu idealnya ia. 

“Hayo, ngelamun. Lagi mikirin Nando ya? Dari zaman kerudung maju depan sampe di posisi ideal, masih aja si Nando yang kamu tunggu. Tar, ayolah. Kamu cantik, pintar, sholehah, masa iya enggak bisa cari yang lain selain Nando” ujar Nadiya mengagetkanku dari arah belakang.

“Iya nih Mentari, engga abis pikir gue. Ngapa ya lo hobi banget mengagumi Nando. Tar nih ya, kalo emang lo suka dia, minta aja ke bapak lo biar dijodohin. Biar masalahnya clear, engga usah ribet dengan cara mengagumi dalam diam, nanti kalo dia keburu nikah habislah harapan lo” ujar Salsa. 

“Susah nasehatin Mentari tuh, udahlah yang mengagumi dalam diam juga dia. Kita engga usah repot-repot, Mentari juga udah gede kan. Dia pasti bisa nentuin jalan dan pilihannya sendiri” ujar Sofi membelaku. 

“Iya iya iya. Mentari lagi dibela” ujar Salsa. 

Kuliah hari ini berjalan dengan lancar. Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Bergegas aku keluar kelas dan menuju parkiran, ku pakai helm ku dan bergegas melaju mengendarai sepeda motorku. Di tengah perjalanan, aku sempatkan mampir ke toko kue untuk membeli bahan-bahan kue yang sudah ibu catat di secarik kertas. 

“Maaf, saya engga sengaja” ujar Nando yang tidak sengaja menyenggol keranjang belanjaanku. 

“Oh iya, Nan. Engga papa ko” jawabku. 

Nando ternyata disini bersama seorang perempuan berkerudung biru, ya itu adalah ibunya. Tanpa bertatap muka, tanpa banyak berkata, aku seketika tremor. Enam tahun setengah aku mengaguminya, jarang sekali berkomunikasi dan hari ini aku berkomunikasi kembali. Seperti mimpi aku bertemu Nando disini. Selama ini, Nando tidak pernah tahu bahwa aku menyukainya. Sengaja, orang-orang terdekat pun aku minta agar tidak membocorkannya kepada siapapun. Aku ingin perasaanku terjaga, jika aku mencintainya maka biarkan aku mencintai Allah. Dzat yang menciptakannya. 

“Ya Allah, Yang Maha berkuasa atas hati, Yang Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya, Yang Maha Pengasih dan Mengasihi semua hamba-Nya. Jika doaku begitu memaksa, aku mohonkan ampun. Kali ini saja, tolong gariskan ia untukku. Tolong jadikan ia jawaban atas segala doa dan kegundahanku. Aku mencintainya karena-Mu, izinkan aku dan ia mengarungi bahtera sama-sama”. Doa itulah yang kerap aku ucapkan di sepertiga malam. Kala rindu menemui puncaknya, derai air mata berlinangan mengikuti, aku bersimpuh di hadapan pemilik jagat raya. 

Singkat cerita, wisuda S2 pun tiba. Bapak dan ibu begitu bergembira melihat putri semata wayangnya telah selesai menuntaskan pendidikan S2 dengan hasil akhir yang begitu memuaskan. Terlebih, usaha butik pakaian muslimah yang sudah ku geluti semakin maju pesat. 

“Mentari, selamat. Gue bangga banget sama sahabat gue satu ini. Selalu bikin gue gemes sama prestasi-prestasinya. Sukses terus ya, Tar” ujar Nadiya memberikan selamat. 

“Unch Tari gue, si penyuka dalam diam akhirnya lulus dengan hasil wah. Cepetan cari calon ya lo, lulus udah, karir cemerlang udah, tinggal nikah lo” ujar Salsa dengan wajah meledek. 

“Iya, doain gue terus makanya. Nanti kalo nikah gue undang deh. Makan besar di rumah bapak dan ibu. Kalian juga sukses selalu ya, karirnya makin cemerlang” jawabku sembari tersenyum kepada mereka. 

Sepulang acara wisuda, ketika aku, bapak dan ibu tiba di rumah. Di ruang tamu, dalam keadaan aku sedang melepaskan toga dan ibu sedang duduk bersama bapak beristirahat.

“Nak, dua hari kemarin ada laki-laki kemari menemui bapak dan ibu. Ia datang ketika kamu pergi ke butik. Ia mengatakan, ia berniat meminangmu. Usiamu sudah 25 tahun, nak. Bapak dan ibu juga sudah tua, kami berdua takut dipanggil Allah sebelum kamu naik pelaminan. Bapak sudah memutuskan, bapak menerimanya. Ia akan kemari besok bersama orang tuanya” ujar bapak. 

Seperti mati berdiri, aku mendengar ucapan itu terlontar dari mulut bapak. Entah apa apa yang harus aku katakan untuk menjawab ucapan bapak tersebut. Hatiku hancur, gundah, pikiranku acak-acakan. Segera aku pamit ke kamar. Di kamar aku menangis sejadi-jadinya. Dengan perasaan penuh kecewa dan amarah aku berkata “kenapa bapak dan ibu seenaknya mengambil keputusan? Padahal yang mau nikahkan aku, yang mau menikmati pahit manisnya berumah tangga aku. Kalau dia bukan sosok baik-baik bagaimana?”. Hingga larut malam aku menangis sesenggukan, meratapi nasibku besok, entah akan seperti apa aku besok dihadapan calon pilihan bapak.

“Mentari, kamu udah bangun? Yuk ke ruang tamu, tamunya udah datang” suara ibu memanggilku. 

“Iya bu” jawabku kepadaku. Dengan kepasrahan, aku melangkahkan kaki keluar kamar dan menemui calon pilihan bapak dengan wajah menunduk.

“Ini Mentari. Dia terlihat cantik pagi ini ya? Dia juga sepertinya senang bertemu calon pilihan bapak yang tentunya sesuai dengan kriteria yang ia mau” ujar ibu sembari tertawa. 

Dengan perlahan, ku tegakkan kepalaku, ku amati dengan detail jari kaki sosok pilihan bapak, ku raba-raba dengan hidung aroma minyak wangi yang ia pakai. Hingga semakin ke atas dan pandanganku terhenti, ia menorehkan senyum manis di hadapanku pagi ini. Aku tertegun, aku seperti mengenali wajah itu, aku mengenali senyum itu. Iya, itu senyum dari sosok yang selama ini aku minta. 

Haru dan bahagia, dengan terkejut, derai air mata membasahi pipiku. Aku seperti tidak percaya, apakah ini benar-benar dia? Apakah benar ini Nando? Seperti mimpi di siang bolong, tapi nyata. Sosok yang kini menemuiku, memintaku di hadapan bapak, ibu dan seluruh keluarganya adalah sosok yang aku kagumi dan aku minta selama bertahun-tahun. Ia kemari, membawakan cincin indah yang akan dipasangakan di jemariku, ia melamarku. Sepertiga malam bicara, Empu-Nya semesta menjawab segala gundah gulana, kami ternyata digariskan bersama-sama. 

.

.

.

.

.

.

06 Maret 2021

Oleh : FA

BAPAK HEBAT

Pagi itu, tepat hari minggu tanggal 13 Desember 2020 hari dimana aku terbangun dari tidurku yang pulas, aku di bangunkan oleh mamahku saat itu. Entah semalam aku mimpi buruk apa mamah memberitahuku bahwa bapak tidak sadarkan diri. Mamahku sangat panik dan bergegas memberitahu saudara-saudara di dekat rumah, sementara dengan nyawa yang belum terkumpul aku menangis dan terus membangunkan bapak yang berharap bisa sadar.

Setelah sudah banyak saudara yang datang ke rumah bapak langsung di bawa menuju rumah sakit terdekat untuk ditangani. Saat itu aku dan adikku yang kecil tidak ikut menuju rumah sakit karena pada hari itu kami satu keluarga berniat menjemput adikku yang satunya di pondok yang akan pulang karena libur semester. Alhasil yang menjemput adikku di pondok aku dengan bibiku, entah bagaimana hancur nya hati adikku ketika tau bahwa bapak di bawa ke rumah sakit.

Aku, bibiku dan adikku langsung menuju rumah sakit tempat bapak di bawa. Setelah sampai di rumah sakit aku dan adikku langsung di suruh masuk ke ruangan bapak, tangis air mataku pecah setelah melihat bapakku yang sudah tidak sadar lagi. Dokter bilang bapak sudah koma. Pembuluh darah di kepalanya pecah dan harus di operasi, tetapi mamahku bingung karena dulu saat aku ber usia 1 tahun bapak sudah pernah di operasi di bagian kepala juga karena ada penyumbatan pembuluh darah, mamahku tidak henti-hentinya menangis pada saat itu, lalu mamah berkata  

“ Ly kamu pulang saja ke rumah nemenin ade dan dede, biar mamah yang nunggu bapak disini ”

“ Iya mah “ jawabku

Lalu aku dan adikku beserta saudaraku pulang menuju rumah. Dan saya hanya bertiga di rumah dengan kedua adikku. Kami menunggu bapak pulang ke rumah, tetapi bapak harus dirawat di rumah sakit. Aku seperti menjadi ibu untuk adik-adikku, aku menyiapkan makanan dan mengurus rumah.

Hingga pada hari selasa mamah pulang ke rumah untuk memastikan kita baik-baik saja dan di rumah sakit ada bibiku yang gantian nungguin bapak. Ketika mamah akan melaksanakan sholat duhur ada salah satu saudaraku yang memberitahu bahwa bapak sudah tidak ada. Saat itu juga isak tangis kita pecah, mamahku segera menuju rumah sakit dengan wajah yang di penuhi dengan air mata.

Pak, Bapak sudah tidak merasakan sakit yang luar biasa lagi, bapak hebat sudah bertahan 17 tahun menahan sakit yang bapak rasakan. Yang tenang disana pak doakan mamah, aku, ade dan dede kuat menjalani hidup ini tanpa bapak. Doakan aku juga supaya cita-citaku tercapai menjadi orang sukses supaya mamah dan bapak bangga disana.

“ Mamah : Kalian jangan pernah merasa malu sudah tidak mempunyai seorang bapak, bersyukurlah atas semua takdir Allah, di luar sana banyak orang yang lebih susah dan mempunyai masalah lebih berat dari kita. Hidup harus tetap berjalan. “

.

.

.

.

.

27 Februari 2021

Oleh : WN

MELIHATMU TERBUJUR KAKU

Sebab cinta pertama bagi perempuan adalah ayahnya. Cinta yang tidak pernah bercampur dusta, berbaur kecewa atau tanpa hati-hati memporak-poranda rasa”

“Gubrag” badan Nia terjatuh dari kasur. Ia menggisik matanya kemudian melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Dengan kebingungan dan tergesa-gesa, ia berlari menuju kamar mandi dengan membawa handuk. Tanpa butuh waktu lama, ia mulai menyalakan kran. Ia menggosok gigi dan sesegera mungkin membasahi badan. Lima menit berlalu, ia bergegas keluar dari kamar mandi dan mulai memakai seragam. Dengan setengah berlari, ia kemudian berlari keluar dari kamar dan menuju ke meja makan. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah, ketika ia menjumpai di meja makan hanya tersedia tempe tanpa lauk-pauk apapun. Sejak kemarin sore, ibunya memang tidak memasak lauk-pauk apapun karena benar-benar sedang tidak memiliki uang. Bapak Nia adalah seorang petani. Ibunya tidak bekerja. Nia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya perempuan, namanya mbak Desi. Mbak Desi sudah menikah, memiliki satu orang anak dan sudah tidak tinggal serumah bersama bapak dan ibu lagi. Adiknya adalah laki-laki, namanya Adi dan Ari. Adi dan Ari adalah anak kembar, mereka baru berusia 1 tahun.

Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas meninggalkan rumah tanpa sarapan terlebih dahulu. Rumah terlihat sudah sepi. Bapak sudah sejak pagi pergi ke sawah mengajak adik kembarnya. Sedangkan ibu sedang mencuci pakaian di sumur milik tetangga. Dengan terpogoh-pogoh ia berlari menuju tempat biasa menunggu angkutan umum. Tak berselang lama, tibalah angkutan umum yang biasa membawa Nia ke sekolah. Dua puluh menit berlalu, sampailah ia di depan gerbang sekolah SMA Nusa Bangsa, salah satu SMA favorit di desa itu. Kedatangannya disambut ceria oleh teman-temannya yang sudah datang lebih awal. Entah mengapa, sudah seminggu perasaan Nia tidak enak. Ia merasa cemas dan khawatir, tidak tahu apa penyebabnya. Lima menit kemudian bel berbunyi, tanda bahwa kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Semua siswa yang masih berada di luar kelas bergegas memasuki ruangan dan menyiapkan buku pelajaran. Tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu. 

“Selamat pagi anak-anak. Ini benar kelas 12 IPS 3 ya?” Tanya bu Santi yang berada di depan pintu kelas. 

“Selamat pagi juga, bu. Iya ibu benar ini kelas 12 IPS 3” Jawab Susi temanku. 

“Oh iya baik, ibu izin masuk ya anak-anak” Ujar bu Santi yang mulai memasuki ruang kelas dan segera menempati meja guru. 

Pukul 08.15 WIB, kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Anak-anak begitu antusias menerima mata pelajaran Bahasa Indonesia hari ini. Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Bel istirahat berbunyi, menandakan bahwa kami semua sudah boleh keluar untuk istirahat dan bersiap-siap melaksanakan shalat dzuhur. Pukul 13.00 WIB, usai melaksanakan shalat dzuhur tiba-tiba perasaan Nia mendadak tak menentu. Ia seketika teringat bapaknya. Menuju perjalanan kembali ke ruang kelas, bu Santi menghampirinya. Bu Santi kemudian mengajak Nia untuk ikut ke ruang piket. Bergegas ia ikut bu Santi, ia berpikir bahwa ada berita baik untuknya hari ini. Sesampainya di ruang piket, terlihat seorang perempuan memakai kerudung sedang duduk menunggu. Perempuan itu adalah mbak Desi. Bu Santi kemudian menyuruh satpam sekolah untuk mengambilkan tas Nia di kelas, kemudian ia bergegas pulang bersama mbak Desi yang sudah menjemputnya. Sepanjang perjalanan Nia bertanya kepada mbak Desi, mengapa ia tiba-tiba dijemput, apa yang terjadi. Mbak Desi hanya menjawab bahwa bapak sakit dan akan dilarikan ke rumah sakit. Ia tidak langsung puas dan percaya atas jawaban mbak Desi, karena ia tahu bahwa sejak pagi bapaknya sehat-sehat saja bahkan pergi ke sawah seperti biasa. 

Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati bendera kuning yang tertancap di depan gang menuju rumahnya. Sepanjnag perjalanan menyusuri jalan gang, ia tidak banyak bicara, berkali-kali ia berpikiran aneh namun lagi-lagi ia selalu berhasil menyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Semakin mendekati halaman rumah, ia kemudian melihat banyak orang berkumpul disana. Pintu rumah yang biasa dibuka sebagian, kini dibuka seluruhnya. Seketika ia merasa cemas dan tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang. Akhirnya, ia mendapati ibunya di dalam rumah. Ibunya sedang menangis di samping tubuh yang sudah terbujur kaku ditutup kain.  Tanpa butuh waktu lama, ia kemudian memasuki rumah dan segera menghampiri ibunya yang sedang berlimangan air mata.

“Bu, ini siapa” Tanya Nia dengan wajah bingung kepada ibunya.

“Mbak Desi, ini siapa mbak?” Tanya Nia kepada mbak Desi.

“Bu, jawab ini siapa? Bapak kemana?” Tanya Nia lagi kepada ibu.

“Ini bapak” Jawab mbak Desi sembari menangis. 

“Ibu dan mbak Desi bohong ya? Nia melihat bapak tadi pagi sehat-sehat saja, bahkan kemarin malam masih bercanda bersama Nia dan Adi di teras luar” Ujar Nia sambil berkaca-kaca..

Dengan penuh rasa penasaran dan perasaan tidak karuan, ia memutuskan untuk membuka kain yang menutupi wajah tubuh yang terbujur kaku tersebut. Betapa terkejut, sedih dan tak menentunya perasaan Nia. Ternyata benar, tubuh yang sudah terbujur kaku tersebut adalah sosok bapaknya. Bapak yang kemarin malam masih menemaninya duduk di teras luar bercanda bersama ia dan Adi.

Tangisan Nia pun pecah dan tak terbendung lagi. 

“Pak bangun, ini Nia. Bapak hanya pingsan kan pak? Ini Nia, pak” Ujar Nia sembari menangis sejadi-jadinya di samping jasad bapaknya. 

“Pak, kemarin malam bapak janji akan selalu sehat. Bapak janji akan nemenin Nia sampai Nia wisuda dan jadi perawat sesuai keinginan bapak. Pak, bangun. Nia masih butuh bapak. Adi dan Ari masih butuh bapak. Pak, Nia enggak tahu harus ngapain tanpa bapak. Nia masih mau kaya temen-temen Nia, ditemenin bapaknya. Pak, bangun” Ujar Nia lagi. 

Nia terus-menerus memanggil, namun kenyataan memang benar. Sosok tersebut tidak juga membuka matanya. Sosok tersebut tetap terbujur kaku dan tidak memberi reaksi apapun. Air mata Nia semakin tak terbendung. Ia merasa hancur sejadi-jadinya hari itu. Ia harus menerima kenyatan bahwa kini tinggallah ia sebagai penjaga ibu dan adik-adiknya, tinggallah ia sebagai tulang punggung dan pengganti bapak. Tanpa datang firasat apapun, sosok yang ia dijadikan cinta pertama yang tidak pernah menyakitinya ternyata tiba-tiba meninggalkan ia untuk selama-lamanya.

Setelah dimandikan dan dikafani, dengan langkah tidak berdaya, ia mengantar sosok yang amat ia cintai ke tempat peristirahatan terakhirnya. Bercucuran air mata, ia terus memanggil bapaknya. Bahkan menjadi-jadi ketika sosok tersebut mulai ditutup tanah. Arti bahwa mereka berdua sudah berjarak sangat jauh. Untuk tidak menambah beban pikiran ibunya, ia memutuskan untuk menjelma menjadi sosok kuat. Ia memeluk ibu dan kedua adiknya. Hati Nia begitu hancur, namun akan lebih hancur lagi jika ia tetap bersikukuh tdak mampu menerima kenyataan, tidak mau mencoba bangkit, menyakinkan diri dan tidak menata hidup lagi. Nia teringat pesan-pesan bapaknya “setelah mbak Desi menikah, jangan kamu ganggu kehidupan rumah tangganya. Kamu juga kan tahu, kehidupan mbak Desi sama seperti kita. Serba kekurangan. Jangan menambah beban untuknya, biarkan ia juga menata kehidupannya. Selagi kamu masih mampu bernafas dan berjalan janganlah bermalas-malasan. Bapak saja yang sudah tua tetap semangat mencari nafkah untuk keluarga. Kamu harus jadi generasi kuat penerus bapak. Harapan bapak dan ibu sekarang adalah kamu, kamu yang akan melanjutkan perjuangan bapak dan ibu, kamu yang harus sukses dan mampu menyekolahkan kedua adikmu, kamu yang harus membuat bapak dan ibu bangga, kamu harus meraih impian-impianmu, kamu harus memperbaiki taraf kehidupan keluarga”. Nia menyakinkan diri, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan larut dalam kesedihan, ia berjanji akan menata kehidupan baru, membuka lembaran, membawa harapan dan mewujudkan semua keinginan bapak.

10 tahun kemudian, dengan menggaet profesi sebagai perawat. Itulah Nia sekarang, sosok yang pernah ditinggalkan bapak sebagai cinta pertama dan sosok yang amat mencintai dan dicintainya. Nia sudah berhasil meraih semua impiannya. Menjadi perawat di rumah sakit terkenal di kota, memberikan kebahagiaan untuk ibu, menyekolahkan adik-adiknya, memperbaiki taraf hidup, mendirikan panti asuhan, menjadi sosok bermanfaat bagi orang banyak, merawat mereka yang membutuhkan dan tentu menjadi kebanggaan almarhum bapaknya. Perjalanan panjang berliku telah ia lewati dengan sangat susah payah. 

Hari itu, ia bersama ibu dan kedua adiknya mengunjungi tempat peristirahatan terakhir bapak, ia kemudian menatap nisan tersebut. Retinanya menatap terus-menerus. Seketika pikirannya mereplay semua peristiwa yang pernah terjadi, peristiwa yang mampu menorehkan luka dan rindu bersamaan. Luka, sebab bapak yang pergi tanpa memberi sepatah dua patah kata, membiarkan ia tumbuh kuat sendirian, menghukum ia agar menjadi sosok hebat bagi ibu dan kedua adiknya, padahal dibalut sepi, dibalut nestapa tak berkesudahan, dibalut kecewa yang berkepanjangan. Rindu, sebab sososk bapak yang amat mencintainya, mendidiknya tegas namun penuh kasih sayang dan cinta kini sudah tenang disisi Pencipta. Antara dunia dan akhirat, jarak jauh yang harus ia terima. 

Air matanya tumpah tak terbendung lagi, bercucuran tidak berhenti. Bapak yang amat ia cintai kini sudah tidak berada disampingnya. Adi, Ari dan ibu yang berada disampingnya menahan tubuh Nia yang hampir jatuh. Ia kembali kalut. Dulu, ia menjelma menjadi sosok yang kuat dan selalu berusaha menebar tawa, terlebih ketika ia menatap wajah ibu dan kedua adiknya. Tapi saat ini, ia benar-benar tidak mampu menjelma menjadi sosok hebat dan mengukir senyum dihadapan ketiga orang yang juga amat ia cintai. Langit yang sudah mendung turut memayungi kesedihan dan kekalutannya hari ini. Ia enggan beranjak. Ia masih disini, di tempat air matanya tumpah bercucuran bagai guyuran hujan, di depan makam yang bertaburan bunga. Ia masih disini, menatap dan memegangi terus-menerus nisan yang bertuliskan nama orang yang amat ia cintai.Ia masih disini, dirundung pilu dan rindu

.

.

.

.

21 Feberuari 2021

Oleh : D A A

KETIKA MALAM TIBA

Malam ini terlihat agak sedikit berbeda. Belum tepat tengah malam, warung makanan sudah tidak menerima pelanggan. Hanya beberapa kedai kopi kecil saja yang masih ramai dikunjungi anak anak muda.

Rasa lelahku menuntun ku ke sebuah kedai kopi diujung jalan. Aku memesan teh manis hangat dengan mie instan untuk menghangatkan tubuhku. Pengunjung lain terlihat asik dengan kawan kawan nya. Sedang aku masih saja memikirkan tugas kuliah yang tak kunjung selesai.

“Ini neng pesanan nya”

Mie kuah dengan telur setengah matang diatasnya, ditambah dengan potongan cabai rawit pedas, kesukaan ku. Aku pun segera memakan mie instan itu dengan lahap, lalu meminum secangkir teh manis hangat agar segera kembali ke kontrakan ku. 

Dijalan menuju kontrakan, suasana jalanan sangat sepi. Lampu lampu kamar di perumahan yang aku lewati sudah dimatikan oleh penghuninya. Jalanan yang biasanya ramai di siang hari, sekarang sangat sepi seperti tempat yang tidak pernah dilewati manusia. Ditambah rasa dingin yang memaksa masuk kedalam tulang tulang ku. Aku pun menyimpan tangan ku di kantong jaket bermaksud mengurangi rasa dingin nya.

Tiba di persimpangan jalan menuju kontrakan, aku merasa seperti ada yang mengikuti.

Krak…

Terdengar suara seseorang yang menginjak ranting dibelakangku. Aku pun berhenti berjalan, aku menoleh kebelakang untuk mengecek sumber suara itu. 

Ah tidak ada apa apa’ Aku pun melanjutkan perjalanan ku. 

Whossssshhh!! Hahahaha!!

Baru beberapa langkah, ada angin yang melintas dengan cepat. Lalu terdengar suara tertawa seorang wanita. Aku sangat ketakutan. Keringatku bercucuran, tangan ku gemetaran. Aku berusaha melihat ke belakang berharap memang ada manusia dibelakang ku, namun aku tidak melihat apa apa di sana.

Angin sedikit berhembus kencang dan dingin pun semakin menyerang. Kejadian tadi masih teringat jelas, aku berusaha tidak peduli dengan kejadian tadi. 

Tapi kali ini seperti ada langkah kaki yang mengikuti ku.

Aku pun sedikit berjalan lebih cepat, namun langkah kaki itu terdengar lebih cepat. Lalu aku berlari tanpa menoleh ke belakang.

Setelah sampai gerbang kontrakan, aku mencari kunci untuk membuka gemboknya. Saku kanan tidak ada, di saku kiri pun tidak ada. Perasaan ku sangat panik karena kunci gembok itu tidak ada. Lalu aku merogoh ke dalam tas ku. 

Ah, ini dia kuncinya’ Aku pun segera membuka gembok tersebut dan  berlari masuk ke dalam lalu menutup pintunya.

Namun aku terdiam. Aku melihat bayangan yang bolak balik didepan pintu kontrakan. Dan aku merasa sekarang dia sudah memegang gagang pintu itu.

Kraeek! Kreeeek! Kreeek!

Bayangan itu seperti memaksa masuk kedalam kontrakanku.

 ‘Jangan masuk.. jangan masuk…’ aku memohon dalam hati agar bayangan itu tidak masuk.

Kreek! Kreeek! Krekk! Hahahaha! Suara wanita yang tadi kutemui terdengar lagi. Dia terus menggerak gerakan gagang pintu . 

Suasana yang tadinya ricuh tiba tiba menjadi hening, aku pun heran. Suara gagang pintu dan suara tertawa itu hilang. Aku tak melihat gerakan bayangan wanita itu lagi. 

Dengan rasa penasaran, aku melihat ke arah luar melalui lubang kunci pintu, untuk memastikan keberadaan bayangan itu. 

Namun aku terkejut melihat apa yang aku lihat. Badanku membeku, mulutku seakan terkunci. Waktu seperti terhenti pada saat itu.

BRAAKK …!!!

Tubuhku terpental, nafasku terengah-engah. Aku terjatuh dari kasur.

Hanya mimpi 

Aku terbangun dari tidurku, membangunkan diri dari mimpi buruk itu. Lalu melanjutkan revisi tugas akhirku. 

Tamat…