21/02/2021

Kategori Cerpen

06 Maret 2021

Oleh : Firly A

BAPAK HEBAT

Pagi itu, tepat hari minggu tanggal 13 Desember 2020 hari dimana aku terbangun dari tidurku yang pulas, aku di bangunkan oleh mamahku saat itu. Entah semalam aku mimpi buruk apa mamah memberitahuku bahwa bapak tidak sadarkan diri. Mamahku sangat panik dan bergegas memberitahu saudara-saudara di dekat rumah, sementara dengan nyawa yang belum terkumpul aku menangis dan terus membangunkan bapak yang berharap bisa sadar.

Setelah sudah banyak saudara yang datang ke rumah bapak langsung di bawa menuju rumah sakit terdekat untuk ditangani. Saat itu aku dan adikku yang kecil tidak ikut menuju rumah sakit karena pada hari itu kami satu keluarga berniat menjemput adikku yang satunya di pondok yang akan pulang karena libur semester. Alhasil yang menjemput adikku di pondok aku dengan bibiku, entah bagaimana hancur nya hati adikku ketika tau bahwa bapak di bawa ke rumah sakit.

Aku, bibiku dan adikku langsung menuju rumah sakit tempat bapak di bawa. Setelah sampai di rumah sakit aku dan adikku langsung di suruh masuk ke ruangan bapak, tangis air mataku pecah setelah melihat bapakku yang sudah tidak sadar lagi. Dokter bilang bapak sudah koma. Pembuluh darah di kepalanya pecah dan harus di operasi, tetapi mamahku bingung karena dulu saat aku ber usia 1 tahun bapak sudah pernah di operasi di bagian kepala juga karena ada penyumbatan pembuluh darah, mamahku tidak henti-hentinya menangis pada saat itu, lalu mamah berkata  

“ Ly kamu pulang saja ke rumah nemenin ade dan dede, biar mamah yang nunggu bapak disini ”

“ Iya mah “ jawabku

Lalu aku dan adikku beserta saudaraku pulang menuju rumah. Dan saya hanya bertiga di rumah dengan kedua adikku. Kami menunggu bapak pulang ke rumah, tetapi bapak harus dirawat di rumah sakit. Aku seperti menjadi ibu untuk adik-adikku, aku menyiapkan makanan dan mengurus rumah.

Hingga pada hari selasa mamah pulang ke rumah untuk memastikan kita baik-baik saja dan di rumah sakit ada bibiku yang gantian nungguin bapak. Ketika mamah akan melaksanakan sholat duhur ada salah satu saudaraku yang memberitahu bahwa bapak sudah tidak ada. Saat itu juga isak tangis kita pecah, mamahku segera menuju rumah sakit dengan wajah yang di penuhi dengan air mata.

Pak, Bapak sudah tidak merasakan sakit yang luar biasa lagi, bapak hebat sudah bertahan 17 tahun menahan sakit yang bapak rasakan. Yang tenang disana pak doakan mamah, aku, ade dan dede kuat menjalani hidup ini tanpa bapak. Doakan aku juga supaya cita-citaku tercapai menjadi orang sukses supaya mamah dan bapak bangga disana.

“ Mamah : Kalian jangan pernah merasa malu sudah tidak mempunyai seorang bapak, bersyukurlah atas semua takdir Allah, di luar sana banyak orang yang lebih susah dan mempunyai masalah lebih berat dari kita. Hidup harus tetap berjalan. “

.

.

.

.

.

.

27 Februari 2021

Oleh : Wiwin Wantiyah

MELIHATMU TERBUJUR KAKU

Sebab cinta pertama bagi perempuan adalah ayahnya. Cinta yang tidak pernah bercampur dusta, berbaur kecewa atau tanpa hati-hati memporak-poranda rasa”

“Gubrag” badan Nia terjatuh dari kasur. Ia menggisik matanya kemudian melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB. Dengan kebingungan dan tergesa-gesa, ia berlari menuju kamar mandi dengan membawa handuk. Tanpa butuh waktu lama, ia mulai menyalakan kran. Ia menggosok gigi dan sesegera mungkin membasahi badan. Lima menit berlalu, ia bergegas keluar dari kamar mandi dan mulai memakai seragam. Dengan setengah berlari, ia kemudian berlari keluar dari kamar dan menuju ke meja makan. Sudah menjadi pemandangan yang lumrah, ketika ia menjumpai di meja makan hanya tersedia tempe tanpa lauk-pauk apapun. Sejak kemarin sore, ibunya memang tidak memasak lauk-pauk apapun karena benar-benar sedang tidak memiliki uang. Bapak Nia adalah seorang petani. Ibunya tidak bekerja. Nia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Kakaknya perempuan, namanya mbak Desi. Mbak Desi sudah menikah, memiliki satu orang anak dan sudah tidak tinggal serumah bersama bapak dan ibu lagi. Adiknya adalah laki-laki, namanya Adi dan Ari. Adi dan Ari adalah anak kembar, mereka baru berusia 1 tahun.

Tanpa pikir panjang lagi, ia bergegas meninggalkan rumah tanpa sarapan terlebih dahulu. Rumah terlihat sudah sepi. Bapak sudah sejak pagi pergi ke sawah mengajak adik kembarnya. Sedangkan ibu sedang mencuci pakaian di sumur milik tetangga. Dengan terpogoh-pogoh ia berlari menuju tempat biasa menunggu angkutan umum. Tak berselang lama, tibalah angkutan umum yang biasa membawa Nia ke sekolah. Dua puluh menit berlalu, sampailah ia di depan gerbang sekolah SMA Nusa Bangsa, salah satu SMA favorit di desa itu. Kedatangannya disambut ceria oleh teman-temannya yang sudah datang lebih awal. Entah mengapa, sudah seminggu perasaan Nia tidak enak. Ia merasa cemas dan khawatir, tidak tahu apa penyebabnya. Lima menit kemudian bel berbunyi, tanda bahwa kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Semua siswa yang masih berada di luar kelas bergegas memasuki ruangan dan menyiapkan buku pelajaran. Tak lupa mereka berdoa terlebih dahulu. 

“Selamat pagi anak-anak. Ini benar kelas 12 IPS 3 ya?” Tanya bu Santi yang berada di depan pintu kelas. 

“Selamat pagi juga, bu. Iya ibu benar ini kelas 12 IPS 3” Jawab Susi temanku. 

“Oh iya baik, ibu izin masuk ya anak-anak” Ujar bu Santi yang mulai memasuki ruang kelas dan segera menempati meja guru. 

Pukul 08.15 WIB, kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Anak-anak begitu antusias menerima mata pelajaran Bahasa Indonesia hari ini. Tak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Bel istirahat berbunyi, menandakan bahwa kami semua sudah boleh keluar untuk istirahat dan bersiap-siap melaksanakan shalat dzuhur. Pukul 13.00 WIB, usai melaksanakan shalat dzuhur tiba-tiba perasaan Nia mendadak tak menentu. Ia seketika teringat bapaknya. Menuju perjalanan kembali ke ruang kelas, bu Santi menghampirinya. Bu Santi kemudian mengajak Nia untuk ikut ke ruang piket. Bergegas ia ikut bu Santi, ia berpikir bahwa ada berita baik untuknya hari ini. Sesampainya di ruang piket, terlihat seorang perempuan memakai kerudung sedang duduk menunggu. Perempuan itu adalah mbak Desi. Bu Santi kemudian menyuruh satpam sekolah untuk mengambilkan tas Nia di kelas, kemudian ia bergegas pulang bersama mbak Desi yang sudah menjemputnya. Sepanjang perjalanan Nia bertanya kepada mbak Desi, mengapa ia tiba-tiba dijemput, apa yang terjadi. Mbak Desi hanya menjawab bahwa bapak sakit dan akan dilarikan ke rumah sakit. Ia tidak langsung puas dan percaya atas jawaban mbak Desi, karena ia tahu bahwa sejak pagi bapaknya sehat-sehat saja bahkan pergi ke sawah seperti biasa. 

Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati bendera kuning yang tertancap di depan gang menuju rumahnya. Sepanjnag perjalanan menyusuri jalan gang, ia tidak banyak bicara, berkali-kali ia berpikiran aneh namun lagi-lagi ia selalu berhasil menyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Semakin mendekati halaman rumah, ia kemudian melihat banyak orang berkumpul disana. Pintu rumah yang biasa dibuka sebagian, kini dibuka seluruhnya. Seketika ia merasa cemas dan tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang. Akhirnya, ia mendapati ibunya di dalam rumah. Ibunya sedang menangis di samping tubuh yang sudah terbujur kaku ditutup kain.  Tanpa butuh waktu lama, ia kemudian memasuki rumah dan segera menghampiri ibunya yang sedang berlimangan air mata.

“Bu, ini siapa” Tanya Nia dengan wajah bingung kepada ibunya.

“Mbak Desi, ini siapa mbak?” Tanya Nia kepada mbak Desi.

“Bu, jawab ini siapa? Bapak kemana?” Tanya Nia lagi kepada ibu.

“Ini bapak” Jawab mbak Desi sembari menangis. 

“Ibu dan mbak Desi bohong ya? Nia melihat bapak tadi pagi sehat-sehat saja, bahkan kemarin malam masih bercanda bersama Nia dan Adi di teras luar” Ujar Nia sambil berkaca-kaca..

Dengan penuh rasa penasaran dan perasaan tidak karuan, ia memutuskan untuk membuka kain yang menutupi wajah tubuh yang terbujur kaku tersebut. Betapa terkejut, sedih dan tak menentunya perasaan Nia. Ternyata benar, tubuh yang sudah terbujur kaku tersebut adalah sosok bapaknya. Bapak yang kemarin malam masih menemaninya duduk di teras luar bercanda bersama ia dan Adi.

Tangisan Nia pun pecah dan tak terbendung lagi. 

“Pak bangun, ini Nia. Bapak hanya pingsan kan pak? Ini Nia, pak” Ujar Nia sembari menangis sejadi-jadinya di samping jasad bapaknya. 

“Pak, kemarin malam bapak janji akan selalu sehat. Bapak janji akan nemenin Nia sampai Nia wisuda dan jadi perawat sesuai keinginan bapak. Pak, bangun. Nia masih butuh bapak. Adi dan Ari masih butuh bapak. Pak, Nia enggak tahu harus ngapain tanpa bapak. Nia masih mau kaya temen-temen Nia, ditemenin bapaknya. Pak, bangun” Ujar Nia lagi. 

Nia terus-menerus memanggil, namun kenyataan memang benar. Sosok tersebut tidak juga membuka matanya. Sosok tersebut tetap terbujur kaku dan tidak memberi reaksi apapun. Air mata Nia semakin tak terbendung. Ia merasa hancur sejadi-jadinya hari itu. Ia harus menerima kenyatan bahwa kini tinggallah ia sebagai penjaga ibu dan adik-adiknya, tinggallah ia sebagai tulang punggung dan pengganti bapak. Tanpa datang firasat apapun, sosok yang ia dijadikan cinta pertama yang tidak pernah menyakitinya ternyata tiba-tiba meninggalkan ia untuk selama-lamanya.

Setelah dimandikan dan dikafani, dengan langkah tidak berdaya, ia mengantar sosok yang amat ia cintai ke tempat peristirahatan terakhirnya. Bercucuran air mata, ia terus memanggil bapaknya. Bahkan menjadi-jadi ketika sosok tersebut mulai ditutup tanah. Arti bahwa mereka berdua sudah berjarak sangat jauh. Untuk tidak menambah beban pikiran ibunya, ia memutuskan untuk menjelma menjadi sosok kuat. Ia memeluk ibu dan kedua adiknya. Hati Nia begitu hancur, namun akan lebih hancur lagi jika ia tetap bersikukuh tdak mampu menerima kenyataan, tidak mau mencoba bangkit, menyakinkan diri dan tidak menata hidup lagi. Nia teringat pesan-pesan bapaknya “setelah mbak Desi menikah, jangan kamu ganggu kehidupan rumah tangganya. Kamu juga kan tahu, kehidupan mbak Desi sama seperti kita. Serba kekurangan. Jangan menambah beban untuknya, biarkan ia juga menata kehidupannya. Selagi kamu masih mampu bernafas dan berjalan janganlah bermalas-malasan. Bapak saja yang sudah tua tetap semangat mencari nafkah untuk keluarga. Kamu harus jadi generasi kuat penerus bapak. Harapan bapak dan ibu sekarang adalah kamu, kamu yang akan melanjutkan perjuangan bapak dan ibu, kamu yang harus sukses dan mampu menyekolahkan kedua adikmu, kamu yang harus membuat bapak dan ibu bangga, kamu harus meraih impian-impianmu, kamu harus memperbaiki taraf kehidupan keluarga”. Nia menyakinkan diri, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak akan larut dalam kesedihan, ia berjanji akan menata kehidupan baru, membuka lembaran, membawa harapan dan mewujudkan semua keinginan bapak.

10 tahun kemudian, dengan menggaet profesi sebagai perawat. Itulah Nia sekarang, sosok yang pernah ditinggalkan bapak sebagai cinta pertama dan sosok yang amat mencintai dan dicintainya. Nia sudah berhasil meraih semua impiannya. Menjadi perawat di rumah sakit terkenal di kota, memberikan kebahagiaan untuk ibu, menyekolahkan adik-adiknya, memperbaiki taraf hidup, mendirikan panti asuhan, menjadi sosok bermanfaat bagi orang banyak, merawat mereka yang membutuhkan dan tentu menjadi kebanggaan almarhum bapaknya. Perjalanan panjang berliku telah ia lewati dengan sangat susah payah. 

Hari itu, ia bersama ibu dan kedua adiknya mengunjungi tempat peristirahatan terakhir bapak, ia kemudian menatap nisan tersebut. Retinanya menatap terus-menerus. Seketika pikirannya mereplay semua peristiwa yang pernah terjadi, peristiwa yang mampu menorehkan luka dan rindu bersamaan. Luka, sebab bapak yang pergi tanpa memberi sepatah dua patah kata, membiarkan ia tumbuh kuat sendirian, menghukum ia agar menjadi sosok hebat bagi ibu dan kedua adiknya, padahal dibalut sepi, dibalut nestapa tak berkesudahan, dibalut kecewa yang berkepanjangan. Rindu, sebab sososk bapak yang amat mencintainya, mendidiknya tegas namun penuh kasih sayang dan cinta kini sudah tenang disisi Pencipta. Antara dunia dan akhirat, jarak jauh yang harus ia terima. 

Air matanya tumpah tak terbendung lagi, bercucuran tidak berhenti. Bapak yang amat ia cintai kini sudah tidak berada disampingnya. Adi, Ari dan ibu yang berada disampingnya menahan tubuh Nia yang hampir jatuh. Ia kembali kalut. Dulu, ia menjelma menjadi sosok yang kuat dan selalu berusaha menebar tawa, terlebih ketika ia menatap wajah ibu dan kedua adiknya. Tapi saat ini, ia benar-benar tidak mampu menjelma menjadi sosok hebat dan mengukir senyum dihadapan ketiga orang yang juga amat ia cintai. Langit yang sudah mendung turut memayungi kesedihan dan kekalutannya hari ini. Ia enggan beranjak. Ia masih disini, di tempat air matanya tumpah bercucuran bagai guyuran hujan, di depan makam yang bertaburan bunga. Ia masih disini, menatap dan memegangi terus-menerus nisan yang bertuliskan nama orang yang amat ia cintai.Ia masih disini, dirundung pilu dan rindu

.

.

.

.

.

.

21 Feberuari 2021

Oleh : D A A

KETIKA MALAM TIBA

Malam ini terlihat agak sedikit berbeda. Belum tepat tengah malam, warung makanan sudah tidak menerima pelanggan. Hanya beberapa kedai kopi kecil saja yang masih ramai dikunjungi anak anak muda.

Rasa lelahku menuntun ku ke sebuah kedai kopi diujung jalan. Aku memesan teh manis hangat dengan mie instan untuk menghangatkan tubuhku. Pengunjung lain terlihat asik dengan kawan kawan nya. Sedang aku masih saja memikirkan tugas kuliah yang tak kunjung selesai.

“Ini neng pesanan nya”

Mie kuah dengan telur setengah matang diatasnya, ditambah dengan potongan cabai rawit pedas, kesukaan ku. Aku pun segera memakan mie instan itu dengan lahap, lalu meminum secangkir teh manis hangat agar segera kembali ke kontrakan ku. 

Dijalan menuju kontrakan, suasana jalanan sangat sepi. Lampu lampu kamar di perumahan yang aku lewati sudah dimatikan oleh penghuninya. Jalanan yang biasanya ramai di siang hari, sekarang sangat sepi seperti tempat yang tidak pernah dilewati manusia. Ditambah rasa dingin yang memaksa masuk kedalam tulang tulang ku. Aku pun menyimpan tangan ku di kantong jaket bermaksud mengurangi rasa dingin nya.

Tiba di persimpangan jalan menuju kontrakan, aku merasa seperti ada yang mengikuti.

Krak…

Terdengar suara seseorang yang menginjak ranting dibelakangku. Aku pun berhenti berjalan, aku menoleh kebelakang untuk mengecek sumber suara itu. 

Ah tidak ada apa apa’ Aku pun melanjutkan perjalanan ku. 

Whossssshhh!! Hahahaha!!

Baru beberapa langkah, ada angin yang melintas dengan cepat. Lalu terdengar suara tertawa seorang wanita. Aku sangat ketakutan. Keringatku bercucuran, tangan ku gemetaran. Aku berusaha melihat ke belakang berharap memang ada manusia dibelakang ku, namun aku tidak melihat apa apa di sana.

Angin sedikit berhembus kencang dan dingin pun semakin menyerang. Kejadian tadi masih teringat jelas, aku berusaha tidak peduli dengan kejadian tadi. 

Tapi kali ini seperti ada langkah kaki yang mengikuti ku.

Aku pun sedikit berjalan lebih cepat, namun langkah kaki itu terdengar lebih cepat. Lalu aku berlari tanpa menoleh ke belakang.

Setelah sampai gerbang kontrakan, aku mencari kunci untuk membuka gemboknya. Saku kanan tidak ada, di saku kiri pun tidak ada. Perasaan ku sangat panik karena kunci gembok itu tidak ada. Lalu aku merogoh ke dalam tas ku. 

Ah, ini dia kuncinya’ Aku pun segera membuka gembok tersebut dan  berlari masuk ke dalam lalu menutup pintunya.

Namun aku terdiam. Aku melihat bayangan yang bolak balik didepan pintu kontrakan. Dan aku merasa sekarang dia sudah memegang gagang pintu itu.

Kraeek! Kreeeek! Kreeek!

Bayangan itu seperti memaksa masuk kedalam kontrakanku.

 ‘Jangan masuk.. jangan masuk…’ aku memohon dalam hati agar bayangan itu tidak masuk.

Kreek! Kreeek! Krekk! Hahahaha! Suara wanita yang tadi kutemui terdengar lagi. Dia terus menggerak gerakan gagang pintu . 

Suasana yang tadinya ricuh tiba tiba menjadi hening, aku pun heran. Suara gagang pintu dan suara tertawa itu hilang. Aku tak melihat gerakan bayangan wanita itu lagi. 

Dengan rasa penasaran, aku melihat ke arah luar melalui lubang kunci pintu, untuk memastikan keberadaan bayangan itu. 

Namun aku terkejut melihat apa yang aku lihat. Badanku membeku, mulutku seakan terkunci. Waktu seperti terhenti pada saat itu.

BRAAKK …!!!

Tubuhku terpental, nafasku terengah-engah. Aku terjatuh dari kasur.

Hanya mimpi 

Aku terbangun dari tidurku, membangunkan diri dari mimpi buruk itu. Lalu melanjutkan revisi tugas akhirku. 

Tamat…